Ruben Onsu Buka Suara Soal Sengketa Rumah Cilandak, Ungkap Biaya Renovasi Fantastis
Nusamedia – 23 Juli 2026 | Kasus perseteruan rumah tangga antara Ruben Onsu dan Sarwendah kian memanas. Kali ini, Ruben Onsu melalui kuasa hukumnya, Minola Sebayang, membongkar bukti-bukti yang membantah klaim Sarwendah terkait rumah di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan. Bukan hanya membantah tuduhan adanya debt collector yang mendatangi rumah tersebut, Ruben Onsu juga membeberkan bukti biaya renovasi yang mencapai angka fantastis, yaitu Rp11,3 miliar. Pernyataan ini seolah menjadi bantahan tegas atas narasi yang selama ini dibangun Sarwendah.
“Jadi nilainya tidak ada dusta di antara kita, Rp11,3 miliar sekian. Ya ini dia, udah diperbaiki 47 kali (cicilan) Rp11,3 miliar. Itu tentang rumah, tentang renovasi, tentang perbaikan, di luar harga rumah ketika dibeli dalam kondisi yang masih bangunan tua, yang bayar juga Ruben, maka sertifikatnya juga atas nama Ruben,” ujar Minola saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (23/7/2026).
Pembongkaran bukti biaya renovasi ini, menurut Minola, dilakukan lantaran selama ini Sarwendah kerap mengklaim bahwa uang yang dikeluarkan untuk rumah tersebut hanya berasal dari dirinya dan mendiang ayahnya, Hendrik Lo. Klaim tersebut dinilai tidak benar dan sangat merugikan pihak Ruben Onsu yang telah mengeluarkan biaya besar untuk perbaikan dan perawatan rumah tersebut.
Detail Biaya Renovasi yang Dikeluarkan Ruben Onsu
Minola merinci bahwa biaya Rp11,3 miliar tersebut tidak hanya mencakup perbaikan struktural rumah, tetapi juga fasilitas-fasilitas mewah yang terpasang di dalamnya. Salah satu yang paling disorot adalah pemasangan lift di rumah Cilandak yang dibiayai penuh oleh Ruben Onsu dengan total biaya mencapai Rp504 juta.
“Di rumah itu ada liftnya. Yang bayar biaya liftnya itu senilai Rp504 juta itu adalah Ruben. Ada bukti transfernya, teman-teman, ya ada bukti transfernya. Jadi jangan nanti dibilang ‘aku, aku’ tapi nggak ada buktinya,” jelas Minola sambil menunjukkan bukti transfer.
Rincian pembayaran biaya lift tersebut terungkap sebagai berikut:
- Pembayaran pertama: Rp120 juta
- Pembayaran kedua: Rp195 juta
- Pembayaran ketiga: Rp189 juta
Total Rp504 juta untuk biaya pemasangan lift yang seluruhnya ditransfer dan dibayarkan oleh Ruben Onsu. Selain itu, Ruben juga menanggung biaya bulanan untuk sistem air conditioner (AC) sentral yang terpasang di rumah tersebut. Total tagihan AC yang dibayarkan Ruben mencapai Rp400 juta.
“Ya, tiga kali pembayaran, ini ada nih AC: Rp200 (juta), kemudian berikutnya Rp100 (juta) dan Rp100 (juta). Totalnya berapa? 400 juta untuk AC, ya,” tambahnya.
Angka-angka ini secara gamblang menunjukkan betapa besar investasi Ruben Onsu dalam rumah yang kini ditempati oleh Sarwendah dan kedua anak mereka. Pernyataan ini menegaskan kembali bahwa Ruben Onsu adalah pihak yang paling banyak mengeluarkan biaya untuk rumah tersebut, baik saat pembelian awal maupun dalam proses renovasi dan perawatannya.
Bantahan Tegas Soal Tuduhan Debt Collector
Selain membongkar bukti biaya renovasi, Minola juga memberikan bantahan tegas terkait tuduhan bahwa pihak Ruben Onsu mengirimkan debt collector ke rumah Cilandak. Menurut Minola, tuduhan tersebut sama sekali tidak benar dan pihak bank pun telah mengonfirmasinya.
“Tadi tadi nih tadi ya hari ini today pihak Bank bilang ‘Pagi Bang, sejauh ini dari tim nggak ada ngirim debt collector’. Sadisnya (tuduhan Sarwendah),” tegas Minola.
Pihak Ruben Onsu mengaku telah mengonfirmasi langsung kepada pihak bank terkait kabar miring tersebut. Hasilnya, pihak bank menyatakan tidak pernah mengirimkan debt collector ke kediaman Sarwendah. Hal ini semakin memperkuat argumen bahwa tuduhan tersebut tidak berdasar dan kemungkinan besar merupakan upaya untuk mendiskreditkan nama Ruben Onsu.
Minola menekankan bahwa pengungkapan fakta ini bukan bertujuan untuk memojokkan pihak mana pun, melainkan untuk memberikan gambaran yang seimbang kepada publik dan terutama untuk melindungi anak-anak Ruben Onsu dan Sarwendah dari informasi yang menyesatkan. Ia berharap masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh berita yang belum tentu kebenarannya dan tidak menyerang kliennya secara sepihak.
“Kami tidak mau itu akan menjadi jejak digital yang membuat anak-anak mendapatkan informasi yang menyesatkan dan juga ingin membuat masyarakat janganlah menggoreng-goreng sesuatu berita yang tidak benar meyakininya dan kemudian menyerang klien kami,” tutupnya. Konfrontasi bukti-bukti ini semakin memperkeruh suasana dan menimbulkan pertanyaan lebih lanjut mengenai penyelesaian masalah rumah tangga mereka.









Tinggalkan komentar