Terbongkar! Ini Alasan Sebenarnya Prabowo dan Gibran Duduk Terpisah di Sidang Kabinet, Istana Angkat Bicara

Rosaria

Juli 25, 2026

3
Min Read
Terbongkar! Ini Alasan Sebenarnya Prabowo dan Gibran Duduk Terpisah di Sidang Kabinet, Istana Angkat Bicara
Terbongkar! Ini Alasan Sebenarnya Prabowo dan Gibran Duduk Terpisah di Sidang Kabinet, Istana Angkat Bicara

On This Post

Momen Sidang Kabinet Picu Spekulasi, Istana Dinginkan Polemik Panas soal Prabowo dan Gibran Duduk Berjauhan

Nusamedia – 25 Juli 2026 | JAKARTA – Munculnya foto yang memperlihatkan Presiden Prabowo Subianto duduk berjauhan dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam Sidang Kabinet Paripurna (SKP) pada 20 Juli lalu, sontak memicu berbagai spekulasi di ruang publik. Gestur tersebut dinilai sebagian kalangan sebagai sinyal adanya keretakan dalam pemerintahan, mengingat biasanya posisi pimpinan negara duduk berdekatan. Dalam foto yang beredar luas di media sosial, Gibran terlihat duduk berderet bersama para menteri, tepatnya di samping Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. Hal ini menimbulkan pertanyaan dan kritik di kalangan warganet, mengapa momen tersebut diunggah ulang dengan narasi seolah menunjukkan perpecahan.

Menyikapi polemik yang kian memanas, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno langsung memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa pengaturan tempat duduk tersebut murni berkaitan dengan kebutuhan teknis Presiden Prabowo saat memaparkan materi. Menurut Pratikno, Presiden Prabowo membutuhkan dukungan data yang banyak dan penggunaan alat bantu teleprompter untuk menyampaikan berbagai program pemerintahannya.

Penjelasan Teknis dari Istana

Pratikno menjelaskan, “Karena beliau (Presiden Prabowo) ingin menjelaskan banyak sekali program, maka kalau saudara-saudara perhatikan, banyaknya program itu juga harus diikuti atau didukung dengan data-data. Karena itu, kemarin beliau menggunakan alat bantu berupa teleprompter. Itulah yang kemudian menjawab pertanyaan mengenai lay out,” ujarnya saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa kemarin.

Lebih lanjut, Pratikno menekankan bahwa posisi Presiden yang berada di tengah-tengah lebih merupakan kebutuhan teknis terkait penggunaan teleprompter. “Kalau saudara-saudara perhatikan, Bapak Presiden berada di tengah-tengah. Kalau yang dipertanyakan adalah posisi Bapak Wakil Presiden, menurut kami ini hanya masalah kebutuhan teknis semata,” imbuhnya. Ia juga menegaskan bahwa tidak ada hal lain yang perlu dikhawatirkan dari pengaturan tempat duduk tersebut.

Kompak dan Fokus pada Substansi

Mensesneg Pratikno secara tegas menyatakan bahwa hubungan kerja antara Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran saat ini dalam kondisi yang sangat baik dan kompak. “Kami pada posisi sekarang sedang kompak-kompaknya,” tegas Pratikno. Ia menambahkan bahwa fokus utama dari Sidang Kabinet Paripurna adalah pada substansi materi yang disampaikan oleh Presiden kepada seluruh jajaran menteri dan pejabat negara.

Sidang Kabinet Paripurna yang dilaksanakan pada 20 Juli tersebut merupakan sidang rutin yang diselenggarakan pertengahan tahun, atau setelah berakhirnya semester pertama tahun anggaran. Sidang kabinet paripurna sebelumnya diketahui dilaksanakan pada 13 Maret 2026, yang berarti berjarak sekitar empat bulan dari sidang yang memicu polemik ini. “Yang paling penting justru bagaimana secara substantif apa yang disampaikan oleh Bapak Presiden kepada seluruh jajaran,” kata Pratikno lagi, menekankan bahwa dinamika politik di balik pengaturan tempat duduk bukanlah isu yang perlu dibesar-besarkan.

Pernyataan Mensesneg ini diharapkan dapat meredakan spekulasi dan narasi negatif yang berkembang di masyarakat. Istana kembali menegaskan komitmen pemerintah untuk bekerja secara solid dan fokus pada program-program pembangunan demi kemajuan bangsa. Isu mengenai Prabowo dan Gibran duduk berjauhan, yang sempat menjadi topik panas, kini dijelaskan sebagai murni kebutuhan teknis demi kelancaran penyampaian materi penting oleh Presiden.

Polemik mengenai posisi duduk Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran dalam Sidang Kabinet Paripurna akhirnya mendapatkan titik terang. Klarifikasi dari Istana melalui Mensesneg Pratikno memberikan penjelasan bahwa pengaturan tempat duduk tersebut didasarkan pada kebutuhan teknis, khususnya terkait penggunaan teleprompter oleh Presiden saat menyampaikan program-program prioritas. Hal ini sekaligus membantah spekulasi liar yang sempat berkembang di media sosial mengenai adanya keretakan dalam hubungan kerja antara kedua pimpinan negara. Pemerintah menegaskan bahwa kekompakan dan fokus pada substansi program menjadi prioritas utama dalam menjalankan roda pemerintahan.

Tinggalkan komentar

Related Post