Nusamedia – 21 September 2026 | Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi sorotan publik setelah menyampaikan serangkaian pernyataan yang menggugah dalam acara Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) di Ponorogo, Jawa Timur, pada Sabtu, 19 September 2026. Di tengah antusiasme peringatan seabad institusi pendidikan ternama itu, terselip omongan menarik Prabowo di Gontor: mau sederhana, sindir profesor dan wartawan. Pernyataan-pernyataan ini tidak hanya mencerminkan pandangan pribadi presiden, tetapi juga pesan mendalam tentang nilai-nilai yang ia junjung tinggi dan harapan untuk bangsa Indonesia.
Meneladani Kesederhanaan Gontor
Suasana haru dan khidmat menyelimuti acara tersebut, terlebih saat Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, K.H. Hasan Abdullah Sahal, menyampaikan pidatonya. Beliau dengan rendah hati menyatakan bahwa dalam hal kesederhanaan hidup, dirinya tidak lebih tinggi dari santri. “Saya ingin menyampaikan kepada Bapak Presiden. Boleh disaksikan kalau makan saya, pakaian saya, kendaraan saya, rumah saya, apalagi melebihi makanan santri, pakaian santri, kereta kendaraan santri, rumah santri. Protes boleh,” ujarnya, seraya mempersilakan para santri untuk berdemo jika gaya hidupnya terbukti melebihi standar kesederhanaan para santri. Pernyataan ini menjadi pengingat kuat akan nilai inti Gontor.
Menanggapi semangat kesederhanaan yang diusung Gontor, Prabowo pun tak mau ketinggalan. Ia meminta panitia untuk menayangkan kembali moto Gontor, Panca Jiwa, yang meliputi keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah islamiyah, dan kebebasan. “Ya ini, sama ini perjuangan kita. Saya selalu ingin ikhlas, saya selalu ingin kesederhanaan, saya ingin bangsa kita berdiri di atas kaki kita sendiri. Ini luar biasa moto ini. Ini moto yang harus berlaku, saya kira, di mana-mana, ya,” tegas Prabowo, menggarisbawahi betapa relevannya nilai-nilai tersebut bagi pembangunan karakter bangsa.
Kritik Tajam untuk Intelektual dan Media
Lebih lanjut, omongan menarik Prabowo di Gontor semakin terasa ketika ia mulai menyentuh isu kepemimpinan dan intelektualisme. Prabowo menekankan pentingnya pemimpin Indonesia memiliki pengetahuan yang luas dan kecerdasan. Namun, ia memberikan peringatan keras agar para pemimpin tidak mudah terpedaya atau dibodohi oleh orang-orang pintar yang memiliki niat buruk. “Aku heran kadang-kadang profesor, tapi tidak bisa melihat ketidakadilan. Profesor yang justru malah membela kepentingan orang-orang asing. Berpikiran bebas. Jangan mau dicuci otak oleh mereka-mereka yang tidak ada niat baik terhadap kita,” tuturnya dengan nada prihatin.
Presiden juga berpesan agar para pemimpin memiliki jiwa besar, tidak mudah merasa rendah diri atau takut sebelum berjuang. “Jangan punya rasa kalah sebelum berjuang. Sedikit-sedikit takut. Nanti bagaimana, nanti kita di… Ya sudah, ada wartawan, saya enggak teruskan,” ucapnya, yang seketika menghentikan penjelasannya. Pernyataan ini mengisyaratkan adanya kekhawatiran terhadap pengaruh asing yang bisa merusak nalar kritis para intelektual.
Tak berhenti di situ, omongan menarik Prabowo di Gontor juga menyasar kalangan media. Setelah memuji Gontor sebagai institusi yang luar biasa, Prabowo menyatakan keinginannya untuk memendekkan sambutannya dan berharap diundang kembali dalam acara yang lebih tertutup, bahkan tanpa kehadiran wartawan. “Acara kalau perlu tidak ada wartawan. Mana wartawan? Ada wartawan di sini? Pintar menyamar, ya, kalian ini, media ini. Dia menyamar di tengah-tengah audiens, jadi enggak terlalu kelihatan,” katanya sambil tersenyum, namun dengan nada serius. Ia menambahkan, “Ini permintaan dan tawaran, permintaan saya diundang tertutup. Kalau di sini, ya, saya juga harus hati-hati bicaranya, ya. Jangan-jangan pakai ini saja sudah heboh.” Sikap ini menunjukkan keinginan Prabowo untuk dapat berbicara lebih bebas dan jujur tanpa kekhawatiran akan interpretasi atau pemberitaan yang berlebihan dari media.
Pesan Kebebasan dan Solidaritas
Di akhir pidatonya, di tengah nada bercanda namun tetap tegas, Prabowo sempat meneriakkan “Free Palestine! Mau heboh, mau enggak heboh, terserah. Free Palestine! Aku, aku jadi muda lagi kalau begini.” Seruan ini disambut antusias oleh hadirin, menunjukkan solidaritas yang kuat terhadap perjuangan Palestina. Pernyataan ini, kendati singkat, menegaskan kembali sikap Indonesia yang konsisten dalam mendukung kemerdekaan Palestina. Pengalaman berinteraksi dengan para santri dan suasana Gontor seolah membangkitkan semangat mudanya.
Keseluruhan omongan menarik Prabowo di Gontor ini memberikan gambaran tentang kompleksitas pemikiran seorang pemimpin negara. Dari penekanan pada nilai kesederhanaan yang diajarkan oleh Gontor, kritik terhadap intelektual yang rentan terhadap pengaruh asing, hingga keinginannya untuk berkomunikasi lebih terbuka tanpa sorotan media yang intens, Prabowo menyampaikan pesan yang multifaset. Acara 100 tahun Gontor menjadi panggung yang tepat untuk refleksi mendalam tentang jati diri bangsa dan peran para pemimpin di dalamnya.









Tinggalkan komentar