Waspada! Kental Manis Diam-diam Mengintai Balita, Survei Ungkap Fakta Mengejutkan

Rosaria

Juli 4, 2026

5
Min Read
Waspada! Kental Manis Diam-diam Mengintai Balita, Survei Ungkap Fakta Mengejutkan
Waspada! Kental Manis Diam-diam Mengintai Balita, Survei Ungkap Fakta Mengejutkan

On This Post

Nusamedia – 04 Juli 2026 | Awas! Survei Membuktikan Kental Manis Masih Mengintai Balita Tanpa Disadari. Produk kental manis (SKM) ternyata masih menjadi ancaman tersembunyi bagi kesehatan anak-anak, khususnya balita. Sebuah survei yang dilakukan oleh Pikiran Rakyat Media Network (PRMN) bekerja sama dengan tim peneliti dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (Unisba) sepanjang tahun 2026, menunjukkan angka konsumsi kental manis pada anak usia dini yang masih mengkhawatirkan. Temuan ini mengungkap bahwa banyak orang tua tanpa sadar memberikan kental manis kepada buah hati mereka, bahkan sejak usia yang sangat dini.

Survei yang melibatkan lebih dari 2.150 orang tua dengan anak berusia 0-5 tahun ini mengungkapkan fakta mengejutkan. Sebanyak 67,9 persen responden masih memberikan kental manis sebagai pengganti susu pertumbuhan. Lebih rinci lagi, 50,84 persen balita usia 1-3 tahun tercatat mengonsumsi kental manis, sementara 6,65 persen bayi di bawah satu tahun terpapar melalui campuran makanan pendamping ASI (MPASI). Ini menunjukkan bahwa paparan kental manis sudah terjadi sejak usia yang sangat rentan.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah bagaimana kental manis ini masuk ke dalam asupan anak. Ternyata, paparan rasa manis berlebih tidak selalu berasal dari segelas minuman manis yang disajikan langsung. Banyak anak mendapatkan asupan kental manis melalui berbagai hidangan yang tampak biasa di meja makan keluarga. Sekitar 13,65 persen responden mengaku anak mereka mengonsumsi kental manis melalui roti, jajanan, minuman kemasan, makanan penutup, hingga berbagai produk olahan lainnya. Hal ini berarti, meskipun orang tua merasa tidak lagi memberikan kental manis secara langsung, anak tetap berisiko mengonsumsinya dalam berbagai bentuk makanan sehari-hari.

Faktor Penyebab dan Persepsi Orang Tua

Ketua tim peneliti, Ivan Firmansyah, menjelaskan bahwa tingginya konsumsi kental manis ini bukan semata-mata karena kurangnya pengetahuan gizi. Ada berbagai faktor kompleks yang memengaruhi keputusan orang tua, termasuk kebiasaan keluarga, pengaruh lingkungan sosial, kemudahan akses produk di pasaran, hingga pertimbangan ekonomi. Menariknya, praktik pemberian kental manis ini juga ditemukan pada keluarga dengan tingkat pendidikan tinggi. Mayoritas responden berasal dari kelompok lulusan sarjana dengan beragam latar belakang pekerjaan. Temuan ini menggarisbawahi betapa kuatnya pengaruh kebiasaan dan budaya konsumsi keluarga terhadap pola makan anak.

Risiko Kesehatan Akibat Konsumsi Kental Manis

Dokter umum yang berpraktik di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar, dr. Rizky Suganda P., membenarkan bahwa hasil survei ini sangat menggambarkan kondisi yang sering ditemui di lapangan. Ia menekankan bahwa anak usia 1-3 tahun membutuhkan sumber nutrisi yang tepat untuk mendukung pertumbuhan optimal. Kental manis, meskipun terasa manis, memiliki kandungan gula yang sangat tinggi namun protein dan mikronutrien yang relatif rendah. Perhatian orang tua perlu difokuskan tidak hanya pada konsumsi kental manis secara langsung, tetapi juga akumulasi gula tambahan dari berbagai makanan dan minuman harian. Sarapan roti dengan tambahan kental manis, jajanan manis di sekolah, minuman kemasan sore hari, hingga makanan penutup malam, jika dijumlahkan, dapat menghasilkan asupan gula harian yang sangat tinggi tanpa disadari.

Paparan rasa manis yang berulang sejak usia dini dapat memengaruhi preferensi makanan anak di masa depan. Dr. Rizky menjelaskan bahwa anak yang terbiasa mengonsumsi makanan manis cenderung kurang menyukai buah-buahan, susu tanpa tambahan gula, maupun air putih. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan serius seperti obesitas, prediabetes, hingga gangguan pola makan. Tidak sedikit pula anak menjadi picky eater, hanya mau mengonsumsi jenis makanan tertentu yang memiliki rasa lebih kuat dan manis.

Rekomendasi Ahli Gizi dan Kesehatan

Dokter spesialis anak konsultan nutrisi dan penyakit metabolik, dr. Viramitha Kusnandi Rusmil, Sp.A(K), menegaskan bahwa kental manis sama sekali tidak dirancang sebagai sumber nutrisi utama bagi anak. Usia 1-3 tahun adalah masa emas pertumbuhan yang membutuhkan asupan protein, vitamin, dan mineral yang cukup untuk mendukung tumbuh kembang optimal. Oleh karena itu, orang tua perlu lebih cermat memperhatikan kualitas nutrisi yang dikonsumsi anak setiap hari, bukan hanya kuantitas makanannya.

Di tengah maraknya pilihan makanan dan minuman manis yang mudah dijangkau, orang tua perlu lebih teliti membaca informasi kandungan gizi pada kemasan produk. Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk mencegah bahaya kental manis dan gula berlebih pada balita antara lain:

  • Membiasakan anak minum air putih sejak dini.
  • Membatasi konsumsi makanan dan minuman dengan tambahan gula.
  • Memilih sumber protein dan nutrisi yang sesuai dengan usia anak.
  • Membiasakan konsumsi buah sebagai camilan sehat.
  • Membaca label kandungan gula sebelum membeli produk makanan atau minuman.

Temuan survei ini menjadi pengingat penting bahwa tantangan gizi anak masa kini tidak hanya sebatas kecukupan makanan, tetapi juga kualitas pola konsumsi yang terbentuk sejak usia dini. Dengan pendampingan yang tepat dan kesadaran akan bahaya tersembunyi seperti kental manis, orang tua dapat membantu anak membangun kebiasaan makan yang lebih sehat demi masa depan yang lebih baik. Penting untuk terus meningkatkan kesadaran bahwa Awas! Survei Membuktikan Kental Manis Masih Mengintai Balita Tanpa Disadari adalah sebuah kenyataan yang membutuhkan perhatian serius.

Kondisi ini menunjukkan bahwa edukasi mengenai gizi seimbang dan bahaya konsumsi gula berlebih, termasuk dari kental manis, perlu terus digalakkan. Memahami bahwa Awas! Survei Membuktikan Kental Manis Masih Mengintai Balita Tanpa Disadari, orang tua dapat mengambil langkah preventif yang lebih efektif.

Tinggalkan komentar

Related Post