Nusamedia – 21 September 2026 | GIANYAR, BALI – Sebuah gebrakan baru di industri otomotif nasional datang dari Pulau Dewata. Tuksedo Studio resmi memperkenalkan mobil sport luxury pertamanya yang diberi nama ‘FirstLady‘, sebuah mahakarya yang lahir dari delapan tahun dedikasi dalam mengasah kemampuan pembuatan replika mobil sport terbaik dunia. Inisiatif ini tidak hanya menandai evolusi Tuksedo Studio dari pembuat replika menjadi produsen mobil orisinal, tetapi juga kebanggaan tersendiri karena Gandeng Seniman Lokal Bali, Tuksedo Studio Kenalkan Mobil Sport Luxury Pertama, Diberi Nama FirstLady.
Acara peluncuran prestisius ini digelar dalam tajuk Auto & Fashion Gala 2026 — An Evening of La Dolce Vita, di markas Tuksedo Studio di Ketewel, Gianyar, Bali, pada Jumat (18/9/2026). Kolaborasi dengan RANS Entertainment semakin memperkuat gaung peluncuran mobil yang menggabungkan keahlian otomotif dengan kearifan lokal Bali.
Co-owner Tuksedo Studio, Laksmana Gusti Handoko, didampingi owner Pudji Handoko, menegaskan bahwa peluncuran FirstLady lebih dari sekadar perkenalan produk. Ini adalah penanda dimulainya babak baru Tuksedo Studio dalam mengembangkan mobil dengan desain orisinal yang sepenuhnya dibuat dan dirakit di Bali.
Gusti Handoko mengungkapkan kebanggaannya dalam menggandeng talenta lokal. “Event ini bertujuan memperkenalkan mobil desain buatan kami sendiri, desain asli kami yang handmade dibuat, di-assembly dan di-finish di Bali oleh perajin Bali dan seniman lokal, anak-anak muda,” ujarnya.
Saat ini, FirstLady masih dalam tahap awal pengerjaan, sekitar 25 persen. Namun, Tuksedo Studio sengaja memperkenalkannya lebih dini untuk menunjukkan kepada publik bahwa anak bangsa, khususnya generasi muda Indonesia, mampu menciptakan karya otomotif berkualitas. “Kalau diperkenalkan setelah jadi, khawatir ada yang tidak percaya bahwa anak-anak muda Indonesia bisa menghasilkan karya mobil sendiri. Biar masyarakat tahu bahwa mobil ini benar-benar dibuat di Bali, bukan dibuat di Italia,” tambah Gusti.
Perjalanan Panjang Menuju Orisinalitas
Proses kreatif di balik FirstLady bukanlah sesuatu yang instan. Selama tujuh hingga delapan tahun terakhir, Tuksedo Studio telah membangun fondasi kuat melalui pembuatan berbagai replika mobil klasik dunia. Pengalaman ini menjadi modal berharga dalam menyerap berbagai pengetahuan fundamental mengenai konstruksi, desain, pengerjaan bodi, detail interior, hingga karakter khas sebuah mobil sport.
“Prosesnya jelas. Kami tujuh sampai delapan tahun terakhir telah belajar dari mobil replika, mobil-mobil terbaik sepanjang sejarah yang telah kami buat. Selama ini kami sudah bisa menyerap ilmunya. Tidak tiba-tiba ada duit lalu bikin mobil,” tegas Gusti.
Proses desain FirstLady sendiri telah memakan waktu sekitar tiga tahun, sementara pengerjaan fisiknya dimulai awal tahun 2026. Dengan pengalaman panjang tersebut, Tuksedo Studio semakin percaya diri untuk menghadirkan mobil dengan identitas Indonesia yang kuat. “Ini adalah mobil pertama kami dan masih dalam tahap research and development. Pasti akan banyak penyesuaian dan regulasi. Kami menargetkan mobil ini selesai pertengahan 2027,” katanya.
Lebih dari Sekadar Mobil, Sebuah Karya Seni
Gusti Handoko menekankan bahwa FirstLady tidak dirancang untuk bersaing di pasar mobil produksi massal. Konsep yang diusung adalah memposisikan mobil sebagai perpaduan harmonis antara otomotif, seni, dan fashion. Hal ini tercermin dari kemasan acara peluncurannya yang memadukan elemen otomotif dengan industri kreatif, mulai dari gala dinner, peragaan busana, pameran seni, hingga pertunjukan orkestra mini sebelum prosesi unveiling FirstLady.
“Kami ingin menyampaikan bahwa mobil ini bukan sekadar mobil, tetapi karya seni dan fashion statement,” ungkap Gusti. Ia menambahkan bahwa di tengah menjamurnya mobil produksi massal, mobil yang memiliki kepribadian dan karakter desain tersendiri, apalagi dengan identitas Indonesia, masih sangat terbatas.
“Orang-orang yang akan membeli atau suka dengan mobil ini adalah orang-orang yang memiliki selera fashion sendiri, personality sendiri dan karakter sendiri. Membuat mobil massal banyak, tetapi membuat mobil dengan personality sendiri dan karakter Indonesia itu belum banyak,” jelasnya.
Oleh karena itu, proses pengembangan Gandeng Seniman Lokal Bali, Tuksedo Studio Kenalkan Mobil Sport Luxury Pertama, Diberi Nama FirstLady dibuka secara transparan kepada publik. Masyarakat dipersilakan menyaksikan langsung proses pembuatannya mulai dari tanggal 18 September 2026 hingga mobil tersebut selesai. “Track record-nya jelas, kami transparan. Siapa pun yang mau melihat proses pembuatannya mulai tanggal 18 September nanti hingga penyelesaian, silakan datang ke Tuksedo Studio. Semuanya jelas, pabriknya jelas, siapa di Bali yang membuat ini jelas,” tegas Gusti.
Keterbukaan ini diharapkan dapat menginspirasi generasi muda Indonesia untuk berani berkarya di bidang otomotif.
Kolaborasi Strategis dengan RANS Entertainment
Dalam mewujudkan visi besar ini, Tuksedo Studio menggandeng RANS Entertainment yang dipimpin oleh Raffi Ahmad. Kolaborasi ini lahir dari kesamaan passion terhadap dunia otomotif dan keinginan kuat untuk menciptakan karya anak bangsa yang mampu bersaing di kancah internasional.
“Saya sama Mas Raffi sudah temenan dan sudah lama berniat bareng mewujudkan ide. Passion kami sama, sama-sama suka mobil. Ternyata cocok dengan saya dan teman-teman,” tutur Gusti.
Keterlibatan RANS Entertainment diharapkan dapat mendukung cita-cita menjadikan FirstLady tidak hanya sebagai karya anak bangsa, tetapi juga sebuah produk yang mendapatkan apresiasi global. Menariknya, sekitar 90 persen pekerja seni dan kreatif yang terlibat di Tuksedo Studio berusia di bawah 30 tahun, menegaskan bahwa ini adalah proyek yang digerakkan oleh semangat kaum muda.
Harapan untuk Industri Otomotif Skala Kecil
Gusti Handoko juga menyuarakan harapannya agar pemerintah memberikan perhatian lebih pada pengembangan industri otomotif berbasis karya dan produksi terbatas di Indonesia. Budaya otomotif di Indonesia, menurutnya, sudah sangat kuat di tingkat komunitas dan custom culture, namun belum diikuti oleh kematangan industri.
“Secara budaya otomotif Indonesia sudah sangat baik dari segi komunitas, klub, custom culture. Cuma kita belum mature di segi industri,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah dapat berperan aktif dalam membangun kepercayaan diri masyarakat untuk menciptakan karya otomotif orisinal. “Harapan saya dengan pemerintah lebih ke arah bagaimana jemput bola membangkitkan percaya diri kami, rakyat Indonesia. Tak hanya kami yang sudah bisa membuat mobil, tetapi semua penggemar otomotif,” katanya.
Lebih lanjut, Gusti mengusulkan adanya regulasi yang lebih adaptif bagi pelaku industri otomotif dengan skala produksi terbatas. Ia berpendapat bahwa produsen yang hanya mampu menghasilkan lima hingga sepuluh unit mobil per tahun memiliki karakteristik yang berbeda dengan industri otomotif massal, sehingga regulasi dan birokrasinya pun perlu disesuaikan.
Salah satu poin penting yang disorot adalah mekanisme pengujian dan kontrol kualitas. Gusti berharap proses teknis tertentu dapat dilakukan lebih dekat dengan daerah tempat industri tersebut berkembang, tidak harus selalu terpusat. “Misalnya testing mobil, quality control mobil, harapannya di setiap daerah bisa dilakukan, jangan semua terpusat. Modal nya besar karena bengkel kan tersebar di mana-mana,” usulnya.
Dengan target penyelesaian pada pertengahan 2027, FirstLady menjadi bukti nyata bahwa anak muda Bali, dengan dukungan seniman lokal, mampu menciptakan mobil dengan desain, karakter, dan identitasnya sendiri. Peluncuran mobil sport luxury Gandeng Seniman Lokal Bali, Tuksedo Studio Kenalkan Mobil Sport Luxury Pertama, Diberi Nama FirstLady ini bukan hanya tentang sebuah kendaraan, melainkan tentang semangat inovasi dan kebanggaan karya anak bangsa.









Tinggalkan komentar