Tak Percaya Diri Meski Rilis Album Perdana
Nusamedia – 03 Juli 2026 | Dalam dunia musik yang penuh gemerlap, tak jarang para musisi justru dilanda keraguan di balik kesuksesan karya mereka. Hal ini turut dirasakan oleh Disjoki (DJ) Mister Aloy yang mengaku diliputi rasa tidak percaya diri menjelang rilis album perdana bareng DNA. Bersama rekannya, JayJax, Aloy merilis album bertajuk OURORA; di bawah naungan DNA. Namun, di balik momen penting ini, Aloy justru merasa kualitas vokalnya belum mumpuni untuk dinyanyikan di album perdananya.
Saat ditemui dalam acara sesi dengar album OURORA;, Aloy blak-blakan mengenai ketakutan terbesarnya. Ia mengungkapkan bahwa kemampuan bernyanyinya menjadi salah satu sumber utama rasa tidak percaya dirinya tersebut. Keraguan ini semakin memuncak ketika Aloy terpaksa menggantikan peran Bravy dan Erika Carlina dalam salah satu lagu DNA yang berjudul “Don’t Talk to Me”.
Terpaksa Mengisi Vokal Karena Keterbatasan Waktu
Aloy menjelaskan bahwa kolaborasi yang direncanakan dengan Bravy dan Erika Carlina urung terlaksana lantaran satu dan lain hal yang tidak dapat dihindari. Padahal, pada saat itu, DNA sudah dituntut untuk segera mengumpulkan materi lagu guna memenuhi tenggat waktu pengumpulan album OURORA;. “Mau nggak mau karena kita sudah harus masukin lagu kita, album kita ke DSP (Digital Streaming Platform). Mengejar waktu, jadi harus saya yang isi,” ujar Aloy, menjelaskan keputusannya untuk turun tangan langsung mengisi bagian vokal.
Keputusan ini diambil demi memastikan album dapat dirilis tepat waktu. Terlebih lagi, proses produksi album yang melibatkan banyak elemen membutuhkan koordinasi dan penyelesaian yang cepat. Aloy sadar betul bahwa menunda pengumpulan materi dapat berakibat pada penundaan perilisan album secara keseluruhan, yang tentu saja akan merugikan proyek DNA.
Perubahan Fokus ke Instrumen
Meskipun sempat dihantui rasa tidak percaya diri dengan kemampuan vokalnya, lagu “Don’t Talk to Me” justru tidak membutuhkan revisi yang rumit pada sektor vokal. Aloy dan JayJax menemukan bahwa penyesuaian yang lebih signifikan justru diperlukan pada bagian instrumen. “Kalau dari suara ternyata enggak, tapi ternyata dari instrumen yang ada. Tapi nggak minor lah, minor, nggak mengubah banyak,” ungkap Aloy lebih lanjut.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun Aloy memiliki keraguan pribadi terhadap performa vokalnya, hasil akhir lagu tersebut tetap dapat diterima dengan baik. Fokus pada penyesuaian instrumen menjadi solusi cerdas untuk menyempurnakan lagu tanpa harus melakukan perombakan besar pada bagian vokal. Ini juga menjadi bukti bahwa chemistry antara Aloy dan JayJax dalam mengolah musik tetap kuat, bahkan dalam situasi yang tidak terduga.
Album OURORA; Siap Mengguncang Platform Digital
Album perdana DNA, OURORA;, kini telah resmi dirilis dan dapat dinikmati oleh para penikmat musik di berbagai platform streaming online. Album ini menyajikan 18 lagu yang mengajak pendengar untuk menyelami berbagai nuansa perjalanan cinta, mulai dari kebahagiaan hingga rasa sakit hati. Kehadiran OURORA; diharapkan dapat memberikan warna baru dalam industri musik, khususnya genre elektronik yang dibawakan oleh DNA.
Kisah di balik rilis album perdana bareng DNA ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap karya besar, seringkali ada perjuangan dan keraguan yang dihadapi para seniman. Aloy membuktikan bahwa mengatasi rasa tidak percaya diri dan beradaptasi dengan situasi yang ada adalah kunci untuk terus berkarya dan memberikan yang terbaik. Pengalaman ini tentu menambah kedalaman narasi di balik album OURORA;, menjadikannya lebih dari sekadar kumpulan lagu, melainkan sebuah cerita tentang keberanian dan dedikasi dalam seni musik. Jadi, rilis album perdana bareng DNA ini menyimpan cerita unik di baliknya.









Tinggalkan komentar