Nusamedia – 23 Juli 2026 | Di sudut terpencil Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Desa Wae Moto berdiri sebagai simbol perjuangan dan harapan. Di tengah keterbatasan akses dan infrastruktur yang masih perlu banyak perhatian, sekolah bukan sekadar bangunan, melainkan mercusuar cita-cita. Di sinilah terdengar ungkapan tulus nan menyentuh hati, Kala Anak Nasabah Pembiayaan Ini Berkata “Orang Tua Berjuang di Sawah, Saya di Sekolah”. Kalimat sederhana namun sarat makna ini menggambarkan realitas pahit manis kehidupan anak-anak di Wae Moto yang memahami betul arti pengorbanan orang tua mereka.
Mariva Yankezia, seorang siswi berusia 10 tahun, adalah salah satu dari sekian banyak anak yang memendam semangat juang luar biasa. Setiap pagi, dengan langkah riang ia menuju SD Inpres Wae Moto, membawa keyakinan bahwa setiap ilmu yang ia serap adalah buah dari peluh dan kerja keras orang tuanya. “Saya tetap semangat sekolah karena saya tahu orang tua saya bekerja keras supaya saya bisa menimba ilmu. Saya ingin belajar sungguh-sungguh agar bisa membanggakan mereka,” tuturnya dengan mata berbinar. Pengakuan Mariva ini menjadi cerminan dari kesadaran mendalam banyak anak di Wae Moto, yang menjadikan pendidikan bukan sekadar kewajiban, melainkan bentuk penghormatan tertinggi atas pengorbanan keluarga.
Harapan yang Terus Menyala di Tengah Keterbatasan
Desa Wae Moto termasuk dalam kategori kawasan terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Kondisi ini berdampak langsung pada sarana dan prasarana pendidikan yang ada. Meskipun semangat belajar anak-anak begitu membara, fasilitas sekolah seperti infrastruktur bangunan, sanitasi, dan kebersihan masih jauh dari memadai. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri dalam menciptakan lingkungan belajar yang optimal dan mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh.
Menyambut Hari Anak Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli, dengan tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”, menjadi momentum penting untuk memberikan perhatian lebih kepada anak-anak di daerah seperti Wae Moto. Salah satu lembaga pemberdayaan ekonomi perempuan, PNM (Permodalan Nasional Madani) melalui program unggulannya, PNM Peduli, merespons kondisi ini dengan sebuah langkah nyata yang berdampak besar. Revitalisasi SD Inpres Wae Moto menjadi wujud nyata kasih sayang dan kepedulian PNM terhadap masa depan generasi penerus bangsa.
PNM Peduli: Investasi Masa Depan Melalui Pendidikan
Melalui program PNM Peduli, PNM berupaya menghadirkan perubahan positif bagi SD Inpres Wae Moto. Renovasi ruang belajar dilakukan agar lebih aman dan nyaman bagi para siswa. Selain itu, perbaikan fasilitas sanitasi dan akses kebersihan juga menjadi prioritas, mengingat pentingnya lingkungan yang sehat untuk proses belajar mengajar, terutama di wilayah yang masih menghadapi tantangan akses air bersih. Kehadiran sarana kebersihan yang memadai tidak hanya mendukung kesehatan siswa, tetapi juga menciptakan ruang belajar yang lebih manusiawi, tempat anak-anak dapat tumbuh, belajar, dan bermimpi dengan lebih percaya diri.
Kindaris, Direktur Utama PNM, menegaskan komitmen perusahaan dalam memberikan pemberdayaan yang berkelanjutan. “Pemberdayaan bukan sekadar memberikan permodalan, tapi yang tak kalah penting pendampingan usaha sehingga manfaatnya dirasakan oleh keluarga terutama anaknya. Saya berharap 15 tahun lagi, saat mereka sudah bisa mulai menggapai cita-citanya, mereka akan ingat bahwa hari ini PNM percaya pada mimpi-mimpi mereka,” ujar Kindaris. Pernyataan ini menggarisbawahi filosofi PNM yang melihat pemberdayaan sebagai investasi jangka panjang, yang tidak hanya menyasar para ibu nasabah Mekaar, tetapi juga harus mengalir hingga ke generasi selanjutnya, yaitu anak-anak mereka.
Generasi Penerus yang Dibangun dari Mimpi
Di SD Inpres Wae Moto, terdapat 14 dari total 64 siswa yang merupakan anak dari nasabah PNM Mekaar. Keberadaan mereka di sekolah ini menjadi bukti nyata bahwa semangat untuk keluar dari keterbatasan terus diwariskan. PNM Peduli hadir untuk memastikan bahwa cita-cita mereka tidak terhalang oleh minimnya fasilitas. Dengan menyediakan ruang belajar yang layak, fasilitas sanitasi yang memadai, serta sarana sekolah yang terus diperbaiki, PNM berharap anak-anak ini dapat belajar dengan aman, sehat, dan terus menyalakan api mimpinya. Kisah Mariva dan teman-temannya mengingatkan kita bahwa di balik perjuangan orang tua di sawah, ada harapan besar yang sedang bersemi di ruang-ruang kelas sekolah. Kala Anak Nasabah Pembiayaan Ini Berkata “Orang Tua Berjuang di Sawah, Saya di Sekolah”, pesan itu adalah pengingat akan pentingnya investasi pada pendidikan sebagai jalan memutus mata rantai kemiskinan dan membuka pintu kesempatan yang lebih luas bagi masa depan bangsa.
Semangat yang sama juga digaungkan oleh para guru di SD Inpres Wae Moto. Mereka senantiasa mendorong para siswa untuk tidak pernah menyerah, memanfaatkan setiap kesempatan belajar yang ada. “Kami melihat potensi besar pada anak-anak ini. Dengan dukungan seperti dari PNM Peduli, kami yakin mereka bisa bersaing dan meraih masa depan yang lebih cerah. Ungkapan Kala Anak Nasabah Pembiayaan Ini Berkata “Orang Tua Berjuang di Sawah, Saya di Sekolah” adalah motivasi bagi kami para pendidik untuk terus berjuang memberikan yang terbaik,” ujar salah seorang guru.
Upaya PNM Peduli ini merupakan manifestasi nyata dari tema Hari Anak Nasional, “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”. Dengan memberikan perhatian pada aspek fundamental seperti pendidikan dan kesehatan, PNM tidak hanya memberdayakan ibu-ibu nasabah Mekaar, tetapi juga secara langsung berkontribusi dalam membangun generasi penerus yang lebih berkualitas dan berdaya saing. Harapannya, kelak anak-anak seperti Mariva dapat meraih cita-cita mereka dan bahkan menjadi agen perubahan bagi komunitas mereka sendiri.









Tinggalkan komentar