Gus Kikin Pimpin PBNU, Siap Dukung Pemerintah dan Jaga Kebersamaan Umat
Nusamedia – 01 September 2026 | Jombang – Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin, secara resmi terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk masa khidmah 2026-2031. Penetapan ini dilakukan melalui musyawarah majelis Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA) dalam rangkaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, pada Senin (31/8/2026). Nama Gus Kikin mendapatkan persetujuan penuh dari Rais Aam terpilih, menandai dimulainya babak baru kepemimpinan di organisasi Islam terbesar di Indonesia ini.
“Secara mufakat memutuskan untuk memilih K.H. Abdul Hakim atau sehari-hari disebut Gus Kikin menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa khidmah 2026-2031,” ujar salah seorang kiai tim AHWA, KH. Anwar Iskandar, di Jombang, mengonfirmasi hasil pemilihan.
Sebelum penetapan melalui mekanisme AHWA, Gus Kikin telah menunjukkan dukungan luas dari struktur NU di berbagai tingkatan. Dalam tahap penjaringan bakal calon Ketua Umum PBNU yang melibatkan unsur Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), dan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU), Gus Kikin berhasil meraup 472 suara. Ia mengungguli empat nama lain yang masuk dalam daftar calon memenuhi syarat, yaitu KH. Zulfa Mustofa, KH. Abdussalam Sochib, KH. Yahya Cholil Staquf, dan KH. Abdul Ghaffar Rozin.
Gus Kikin, yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua PWNU Jawa Timur, menyatakan bahwa pencalonannya merupakan mandat langsung dari struktur NU di Jawa Timur. Ia pun mengajak seluruh warga Nahdlatul Ulama untuk kembali merapatkan barisan dan memperkuat kebersamaan, terutama setelah dinamika yang mewarnai pelaksanaan Muktamar ke-35 NU.
NU Bukan Organisasi Politik, Fokus pada Keagamaan dan Kemasyarakatan
Dalam kesempatan tersebut, Gus Kikin menegaskan kembali jati diri NU sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan, bukan organisasi yang berorientasi pada politik praktis. Menurutnya, NU memiliki pijakan keagamaan yang kuat dan pedoman organisasi yang menjadi kompas dalam menjalankan roda organisasi. Hal ini penting agar NU tidak disalahgunakan sebagai alat kepentingan politik tertentu.
“NU itu bukan untuk berpolitik. NU itu adalah organisasi keagamaan, organisasi kemasyarakatan,” tegas Gus Kikin. Ia menambahkan, hubungan NU dengan politik adalah dua hal yang berbeda, namun NU tetap memiliki kewajiban untuk mendukung pemerintah sesuai dengan amanat konstitusi dan tuntunan agama.
Menyinggung soal hubungan dengan pemerintah, Gus Kikin menyatakan bahwa NU akan tetap memberikan dukungan sesuai dengan kewajiban sebagai elemen bangsa. “Jadi kalau ada gesekan ya mungkin gesekan, tapi jalannya berbeda,” ujarnya, mengindikasikan bahwa NU akan tetap berjalan di koridornya sambil menjaga sinergi konstruktif dengan pemerintah.
Perkuat Moral dan Potensi Warga NU
Gus Kikin juga menekankan pentingnya NU sebagai organisasi yang inklusif dan terbuka sejak awal pendiriannya. Oleh karena itu, seluruh elemen dan potensi yang ada di lingkungan NU akan diupayakan untuk tetap terwadahi dalam kepengurusan mendatang. “Semua potensi yang ada di NU itu akan kita wadahi. Karena itu memang potensi-potensi yang ada itu harus kita wadahi,” katanya.
Pekerjaan awal setelah terpilih adalah penyusunan kepengurusan PBNU. Gus Kikin menargetkan proses ini dapat diselesaikan maksimal dalam satu bulan, namun tidak menutup kemungkinan akan rampung lebih cepat. “Tutup satu bulan. Kita isi organisasi kita. Tanpa itu kita bagaimana mau bekerja?” tuturnya.
Terkait isu pemberantasan korupsi, Gus Kikin memandang persoalan ini sangat berkaitan erat dengan moralitas individu dan masyarakat. Untuk itu, NU akan memprioritaskan penguatan pendidikan akhlak dan nilai-nilai keagamaan sebagai bagian integral dari upaya membangun karakter bangsa yang kuat dan berintegritas. “Kita dari NU dari sisi akhlak kita perbaiki moral itu kemudian lebih takut kepada Allah,” jelasnya.
Di bidang pendidikan, kesehatan, dan transformasi pesantren, Gus Kikin optimis NU memiliki modal awal yang signifikan. Keberadaan pesantren dan perguruan tinggi NU yang tersebar luas, khususnya di Jawa Timur, menjadi aset berharga yang akan terus dikembangkan dan ditingkatkan kualitasnya untuk menjawab tantangan zaman.
Terpilihnya Gus Kikin Jadi Ketum PBNU menjadi sorotan utama, dan komitmennya untuk mendukung pemerintah serta memperkuat basis moral masyarakat menandakan arah kepemimpinan yang berorientasi pada kemaslahatan umat dan bangsa. Dengan visi inklusif dan fokus pada penguatan karakter, Gus Kikin Jadi Ketum PBNU diharapkan mampu membawa NU semakin berkontribusi positif bagi pembangunan Indonesia. Pernyataan Gus Kikin Jadi Ketum PBNU, Siap Dukung Pemerintah menjadi penegasan komitmennya dalam membangun sinergi yang baik.









Tinggalkan komentar