Nusamedia – 05 September 2026 | Sebuah video yang beredar di media sosial memicu perhatian publik, menampilkan seorang pria berseragam Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) hadir dalam sebuah acara kontes kecantikan transgender di Thailand. Pria berseragam itu tampak mendampingi seorang pria naik ke atas panggung, yang belakangan diketahui adalah Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Arya Wedakarna. Kejadian ini sontak menimbulkan pertanyaan mengenai keterlibatan anggota TNI dalam acara tersebut. Menanggapi hal ini, Markas Besar (Mabes) TNI menyatakan akan melakukan evaluasi mendalam terhadap anggotanya jika terbukti melakukan pelanggaran.
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Mayjen TNI Muhammad Nas, memberikan pernyataan pada Kamis kemarin, menegaskan bahwa pada prinsipnya, setiap penugasan personel TNI memiliki dasar, mekanisme, dan ketentuan yang berlaku. “Apabila ada hal yang di luar itu tentu akan dievaluasi,” ujar Mayjen Nas. Ia menambahkan bahwa pihaknya saat ini masih dalam proses penelusuran untuk mengidentifikasi prajurit TNI AL yang bersangkutan serta status penugasannya. Namun, Mayjen Nas enggan memberikan rincian lebih lanjut mengenai progres penelusuran yang sedang dilakukan oleh TNI terkait kasus ini.
Sementara itu, Arya Wedakarna, yang menjadi sorotan dalam isu ini, pada Rabu silam memberikan klarifikasi mengenai kehadirannya. Ia mengaku hadir dalam kapasitas sebagai tokoh yang mewakili Bali untuk memenuhi undangan dari MS Organization. Organisasi tersebut dikatakannya kerap menggelar berbagai kegiatan sosial dan amal, termasuk di Bali. Arya menjelaskan bahwa acara yang dihadirinya bukan semata-mata kontes kecantikan, melainkan rangkaian kegiatan yang meliputi kunjungan ke vihara, kuil Hindu, pameran, dan diskusi, yang puncaknya digelar pada 30 Agustus 2026.
“Tim mereka itu juga membuat video tentang Bali, pariwisata Bali. Jadi yang di mana saya datang untuk mewakili Bali, karena menerima apa, video itu ya tentang pariwisata Bali yang dianggap berhasil,” ungkap Arya. Ia mengaku tidak mengetahui sejak awal bahwa kegiatan tersebut mengusung isu transgender. “Nggak. Kan kita secara, saya nggak tahu. Yang kedua kan kita kan tidak etis dong nanya-nanya tentang gender, ya,” tuturnya. Arya menekankan bahwa kehadirannya adalah murni untuk mewakili Bali, bukan sebagai perwakilan DPD RI.
Terkait dengan kehadiran seorang anggota TNI AL yang mendampinginya, Arya Wedakarna membenarkan bahwa pria tersebut adalah ajudannya. “Itu ajudan saya, itu sudah satu tahun sama saya. Kemudian sudah bertugas. Memang dari TNI AL,” ungkapnya. Menurut Arya, kehadiran ajudan tersebut memang disengaja untuk mengawalnya selama berada di Thailand, mengingat situasi keamanan di kawasan tersebut yang menjadi pertimbangan. “Kemarin masih ada perang, perang antara Thailand, Myanmar, Kamboja. Kemudian kemarin tuh ada, di sana kan sering ada ledakan bom dan juga ada penembakan. Jadi memang melekat aja, memang tugasnya mengawal saya, nggak ada hubungannya (dengan acara),” jelas Arya.
Meskipun Arya Wedakarna telah memberikan penjelasannya, keterlibatan anggota TNI AL dalam acara yang berpotensi menimbulkan kontroversi ini tetap menjadi perhatian serius bagi institusi TNI. Pernyataan Mabes TNI yang akan melakukan evaluasi menunjukkan komitmen mereka untuk menjaga marwah dan disiplin prajurit. Kasus ini kembali menegaskan pentingnya setiap personel TNI untuk selalu menjaga sikap dan tindakan, terutama saat berada di luar negeri atau dalam kegiatan yang sensitif. Evaluasi terhadap anggota TNI AL yang hadir dalam kontes transgender Thailand bareng Senator Bali ini diharapkan dapat memberikan pembelajaran dan mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.
Kasus ini menjadi sorotan publik dan menimbulkan berbagai spekulasi. Penting untuk menunggu hasil evaluasi resmi dari Mabes TNI untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai duduk perkara sebenarnya. Terlepas dari latar belakang acara atau status penugasan, kehadiran anggota berseragam TNI di acara yang tidak terkait dengan tugas pokoknya akan selalu mendapat perhatian dan analisis dari institusi.









Tinggalkan komentar